Assalamu'alaikum Fren

Semoga Bermanfaat

Kamis, 19 April 2012

Pemanfaatan Laut Sebagai Sumber Energi Listrik Menurut Perspektif Al Qur’an

Pemanfaatan  Laut Sebagai Sumber Energi Listrik Menurut Perspektif Al Qur’an
(Sebuah Upaya Mengentaskan Indonesia dari Permasalahan Energi)
Oleh Heriawan

    
Dewasa ini, pembangunan dalam bidang teknologi, industri, dan informasi di Indonesia semakin berkembang pesat. Hal ini berimplikasi pada meningkatnya permintaan pasokan energi listrik. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bahwa pada tahun 2008, pertumbuhan kebutuhan energi listrik di Indonesia mencapai 6,5%, sedangkan pada tahun 2009 naik menjadi 7,5%.[1] Tingginya permintaan pasokan energi listrik ini, tidak diimbangi dengan penambahan kapasitas daya yang memadai. Dampak paling nyata adalah terjadinya pemadaman listrik bergilir dan libur industri yang tidak seragam. Faktor penyebab terjadinya krisis listrik salah satunya karena Indonesia masih bertumpu pada minyak bumi dan gas sebagai sumber utama pembangkit energi listrik, padahal cadangan minyak bumi di Indonesia semakin menipis.

Ditinjau dari segi geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan jumlah pulau lebih dari 17.000 dan panjang garis pantai sekitar 81.000 km.[2]  Negara ini memiliki jumlah penduduk sekitar 210 juta jiwa, dengan jumlah penduduk muslim sekitar 87 % atau sekitar 190 juta jiwa.[3] Jumlah penduduk muslim ini merupakan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dengan Al Qur'an sebagai pedoman hidupnya. Di dalam Al Qur’an itulah disebutkan mengenai laut dan pemanfaatannya, yang secara implisit memberikan petunjuk dan inspirasi bagi bangsa ini agar dapat memanfaatkan potensi laut yang ada dengan sebaik-baiknya, salah satunya sebagai sumber energi listrik. Dengan demikian, sudah saatnyalah bangsa ini bangun dan menjadi besar dengan landasan kelautan  sebagai prime mover dalam pembangunan.

Al Qur’an yang kurang lebih terdiri dari 6.236 ayat, sedikitnya ada 32 ayat yang berbicara tentang laut dalam berbagai sudut pandang. Tiga puluh dua ayat tersebut antara lain:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (164)
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Al Baqarah [2] : 164).[4]

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (14)
Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. (QS. An Nahl [16] : 14).[5]

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (46)
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahan kamu bersyukur. (QS. Ar Ruum [30] : 46).[6]

وَمَا يَسْتَوِي الْبَحْرَانِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ سَائِغٌ شَرَابُهُ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَمِنْ كُلٍّ تَأْكُلُونَ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُونَ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ فِيهِ مَوَاخِرَ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (12)
Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur. (QS. Al Fathir [35] : 12).[7]

رَبُّكُمُ الَّذِي يُزْجِي لَكُمُ الْفُلْكَ فِي الْبَحْرِ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (66)
Tuhan-mu adalah yang melayarkan kapal-Kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadapmu. (QS. Al Isra [17] : 66).[8]

اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (12)
Allahlah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. (QS. Al Jatsiyah [45] : 12).[9]

Ayat-ayat di atas ada yang menunjukan kekuasaan Allah akan lautan, ada yang menunjukan kekayaan laut yang begitu melimpah, dan ada beberapa ayat di antaranya  secara tidak langsung memberikan teguran bagi manusia agar terus berusaha memikirkan manfaat-manfaat lain dari karunia yang telah Allah berikan, yaitu laut. Hal itu tercermin dari bunyi  beberapa potongan ayat yang artinya “sungguh terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan” dan bunyi potongan ayat lain yang artinya ”supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”. Di samping itu, dalam ayat di atas Allah juga berfirman, وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِDan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya. Itulah mengapa kita dimaklumkan oleh Allah agar senantisa memikirkan kondisi alam yang demikian menakjubkan ini, di mana semua harapan inovasi untuk dapat memanfaatkan laut sebagai sumber energi listrik hanya dapat dilakukan bagi bangsa yang mau memikirkannya.

Ulama tafsir As Sa’diy menafsirkan, Ayat 14 surat an Nahl menyatakan bahwa Allah sendiri yang menyediakan kebutuhan yang bermacam-macam bagi manusia dari laut.[10] Dikatakan pada surat al Isra’ ayat 66 sebagai berikut, Allah mengingatkan kepada hamba-Nya akan nikmat ditundukkannya laut untuk berlayarnya kapal-kapal dan semua berjalan dengan rahmat-Nya dan kasih sayang-Nya adalah untuk kemakmuran manusia.[11] Surat ar Ruum ayat 46, dikatakan dan agar berlayar kapal-kapal di atas laut dengan kekuasaan-Nya, agar mencari segenap kekayaan laut dalam pekerjaan dan juga kemaslahatan mereka.[12] Surat Fathir ayat 12, dikatakan lahman thariyyan adalah ikan yang dimudahkan dalam penangkapannya dan mutiara-mutiara serta semua yang terkandung di dalam laut untuk bisa digali.[13] Disamping itu, ulama tafsir  Sayyid Quthb juga menafsirkan dalam tafsirnya Fi Dhilal al Qur’an, dijelaskan bahwa pada ayat 14 surat an Nahl,  وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ adalah betapa sangat indahnya pemandangan di permukaan laut dengan kapal-kapal yang berlayar di atasnya. Kemudian untuk kelanjutan ayat ini dia mengungkapkan bahwa laut merupakan kebutuhan yang dharuriy.[14] Pada  Surat Ruum ayat 46, dikatakan bahwa kegunaan laut adalah untuk perdagangan dan perjalanan.[15] Pada ayat 12 surat Fatir; disebutkan proses terjadinya mutiara, pemanfaatan laut sebagai jalur perdagangan dan perjalanan, pemanfaatan ikan-ikan yang segar bagi manusia, perhiasan, dan menggunakan air laut, serta kapal-kapal berat.

Dengan demikian, bagaimana implementasi logis dari ayat yang akan senantiasa shalih li kulli makan wa zaman ini? Apabila dianalisa dengan metodologi fikih (ushul al-fiqh), ayat-ayat di atas dapat menjadi landasan hukum, agar umat islam khususnya di Indonesia mau menggali dan memanfaatkan potensi  laut yang telah Allah karuniakan dengan sebaik-baiknya. Seperti  dalam surat Al-Jasyiyah ayat 12 di atas menyatakan bahwa, laut memang telah ditundukkan untuk kita, kemudian kita diminta untuk mencari sebagian karunia-Nya di sana. Salah satunya yaitu dengan memanfaatkannya sebagai sumber pembangkit energi listrik, selain murah karena relatif tidak mengalami fluktuasi harga di pasar global, energi listrik dari laut juga tidak memiliki keterbatasan pasokan.[16] Mengutip data Bappenas Bidang Tata Ruang dan Kemaritiman, arus laut Indonesia memiliki daya sekurangnya 6-9 Terra Watt, atau setara dengan 30.000-50.000 kali lipat daya yang dihasilkan PLTA Jatiluhur yang hanya 187 MW.[17] Untuk pembangunannya, dukungan perangkat teknologi dan SDM Indonesia saat ini sudah sangat memungkinkan, apalagi beberapa negara sudah mengaplikasikannya, sehingga perangkat teknologi yang akan digunakan sudah memiliki acuan teknologi mana yang paling handal, efektif, dan ekonomis.

Pemanfaatan energi laut memiliki beragam keistimewaan, selain dikenal ramah lingkungan, arus laut juga memiliki densitas 830 kali lipat lebih tinggi dari densitas udara, sehingga dengan kapasitas yang sama, turbin arus laut akan jauh lebih kecil dibandingkan turbin angin.[18] Keistimewaan lain, energi arus laut tidak memerlukan perancangan struktur yang kekuatannya berlebihan, sebab pada kedalaman tertentu arus cenderung tenang dan dapat diperkirakan, tidak seperti turbin angin yang dirancang dengan memperhitungkan adanya angin topan.[19]

Beberapa pembangkit listrik yang dapat dibangun dengan memanfaatkan energi laut antara lain:
1.     Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut
Saat laut pasang dan saat laut surut, aliran airnya dapat menggerakkan turbin untuk membangkitkan listrik. Pembangkit ini pertama direalisasikan di La Rance, Brittany, Perancis. Di Indonesia, daerah yang potensial untuk mengaplikasikannya adalah di sebagian Pulau Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Papua, dan pantai selatan Pulau Jawa, karena pasang surutnya bisa lebih dari lima meter.[20]
2.     Pembangkit Listrik Energi Panas Laut
Prinsip kerjanya adalah melalui Konversi energi panas laut, yaitu sistem konversi energi yang terjadi akibat perbedaan suhu di permukaan dan di bawah laut yang dapat diubah menjadi energi listrik. Daerah yang berpotensi  untuk pembangkit ini terletak di katulistiwa. Karena di daerah ini suhu permukaan lautnya berkisar antara 25-30°C, sedangkan suhu di bawah laut turun 5-7°C pada kedalaman lebih dari 500 meter.[21]
3.     Pembangkit Listrik Tenaga Ombak
Sifat kontinuitas yang tersedia setiap waktu menjadikan ombak baik dijadikan pembangkit tenaga listrik. Pembangkit listrik tenaga ombak ini telah diuji cobakan di pulau Islay, pantai barat Skotlandia, dan menghasilkan 500 KW listrik yang cukup untuk kebutuhan 400 rumah tangga. Cara kerjanya sederhana, sebuah tabung beton dipasang pada ketinggian tertentu di pantai dan ujung lainnya dipasang di bawah permukaan air laut. Setiap ada ombak datang, air di dalam tabung beton  mendorong udara di dalam tabung yang terletak di darat. Ketika ombak surut, terjadi gerakan udara yang sebaliknya dalam tabung. Gerakan udara inilah yang dimanfaatkan untuk memutar turbin yang dihubungkan dengan pembangkit listrik. Sebuah alat khusus dipasang pada turbin supaya turbin hanya berputar satu arah.[22]

Dengan melihat paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Al Qur’an telah memberikan gambaran secara jelas bahwa laut memberikan kemanfaatan yang luar biasa besar. Semua yang terkandung di dalamnya ditujukan bagi manusia agar digunakan untuk sebesar-besar  kemakmuran masyarakat. Namun sayang, pemerintah Indonesia belum menaruh perhatian yang cukup besar untuk memanfaatkannya, yaitu sebagai pembangkit energi listrik. Buktinya, pada percobaan pengembangan instalasi yang memanfaatkan energi gelombang yang pernah dilakukan di pantai Baron, Yogyakarta belum menunjukkan hasil yang memuaskan.[23] Adalah sebuah kewajiban bagi kita bangsa Indonesia untuk mensyukuri segenap nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, yaitu laut yang luas. Salah satu cara yang dapat ditempuh yaitu dengan memanfaatkannya sebagai pembangkit energi listrik, yang harapannya dapat digunakan untuk mensejahterakan bangsa Indonesia agar dapat menjadi umat yang terbaik, khayran ummah, the best and chosen society, yang berwawasan kelautan.



DAFTAR PUSTAKA


As Sa’diy, Abdurrahman ibn Nashir. tt.  Taisir al Karim ar Rahman. Al Qahirah: Dar al manar.

Quthb, Sayyid. 2000. Fi Dhilal al Qur’an. Jakarta: Gema Insani.

Tohaputra, Ahmad. 1998. Al Qur’an dan Terjemahnya. Semarang: Asy-Syifa’.






[2] http://rudyct.tripod.com/sem1_023/andy_a_zaelany.htm.
[3] http://www.lautanquran.com/modules.php?op=modload&name.
[4] Ahmad Tohaputra,Al Qur’an dan Terjemahnya,(Semarang:Asy-Syifa’,1998),h.19.Juz.2.
[5] Ibid,h.214.Juz.14.
[6] Ibid,h.326.Juz.21.
[7] Ibid,h.348.Juz.22.
[8] Ibid,h.230.Juz.15.
[9] Ibid,h.399.Juz.25.
[10] Abdurrahman ibn Nashir as Sa’diy,Taisir al Karim ar Rahman,(Al Qahirah, Dar al manar, tt.),h. 436.
[11] Ibid, h. 462.
[12] Ibid, h. 643-644.
[13] Ibid, h. 686.
[14] Sayyid Quthb,Fi Dhilal al Qur’an,(Jakarta: Gema Insani, 2000), h. 168. juz. 7.
[15] Ibid, juz. 9.
[19] Ibid.
[21] http://www.scribd.com/doc/44530769/Air-Sebagai-Energi-Fery.
[22] http://www.alpensteel.com/article/52-106-energi-laut-ombakgelombangarus/3820--pembangkit-
        listrik-tenaga-ombak-telah-diuji-cobakan-di-pulau-islay-di-lepas-pantai-barat-skotlandia.html.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar