Assalamu'alaikum Fren

Semoga Bermanfaat

Jumat, 20 April 2012

Pengolahan Minyak Jelantah menjadi Bahan Bakar Kompor Alternatif melalui Proses Transesterifikasi pada Warung Makan Pondok Bunda di Daerah Sekeloa Bandung.


Oleh Heriawan

A.    JUDUL
Pengolahan Minyak Jelantah menjadi Bahan Bakar Kompor Alternatif melalui Proses Transesterifikasi pada Warung Makan Pondok Bunda di Daerah Sekeloa Bandung.

B.     LATAR BELAKANG MASALAH
Berdasarkan survai acak yang telah penulis lakukan terhadap sepuluh pemilik warung makan yang ada di daerah Sekeloa Bandung pada tanggal 19 September 2011, tujuh  diantaranya mengeluh terhadap keputusan pemerintah yang telah mensubtitusi minyak tanah ke gas. Mereka menganggap harga gas masih mahal, meskipun terkesan lebih murah jika dibandingkan harga minyak tanah saat ini. Keputusan tersebut juga menyisakan beberapa persoalan, seperti  tingkat keamanan pemakaian gas yang rendah dan cara pemakaiannya yang lebih sulit dan harus lebih berhati-hati dibandingkan dengan minyak tanah, ujar beberapa pemilik warung makan saat penulis survai.
Sementara itu, penulis juga mengamati bahwa warung makan-warung makan yang ada di sana  menghasilkan minyak jelantah yang cukup banyak setiap harinya. Dalam proposal ini, penulis menyoroti secara khusus warung makan Pondok Bunda, yaitu warung makan yang akan dijadikan mitra kerja oleh penulis. Warung makan tersebut setiap harinya menghasilkan sekitar 1 kg minyak jelantah. Minyak jelantah tersebut biasanya dibuang ke saluran air, diberikan ke orang lain, dan terkadang digunakan kembali untuk menggoreng. Kebiasaan tersebut jelas-jelas akan berbahaya terhadap kesehatan konsumen dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, penulis ingin mengadakan kerjasama dengan pemilik warung untuk mengolah minyak jelantah yang dihasilkannya menjadi bahan bakar kompor alternatif.
Proposal PKM-T yang penulis angkat ini juga didukung oleh pendapat   Safriadi, seorang perekayasa dari BPPT. Beliau memandang bahwa pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan bakar kompor alternatif dapat dijadikan alternatif solusi untuk mengatasi  kelangkaan elpiji yang kadang terjadi, harga minyak tanah yang melambung, dan ketakutan sebagian masyarakat terhadap ledakan tabung elpiji. Beliau juga menjelaskan bahwa bahan bakar kompor alternatif dari minyak jelantah berpotensi menjadi bahan bakar yang ramah lingkungan, karena dalam proses pembakarannya hanya menghasilkan sedikit gas Sulfur, CO2, dan CO, sehingga mendukung Inpres Nomor 1 Tahun 2006 tentang pemanfaatan bahan bakar nabati sebagai bahan bakar ramah lingkungan (http://www.ristek.go.id/?module=News%20News& id=5131).
Sementara itu, bahan bakar alternatif ini juga dapat meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi secara lokal dan merupakan renewable energy. Safriadi juga menyatakan bahwa bahan bakar tersebut baru akan meledak ketika terkena temperatur  diatas 300oC, sehingga relatif lebih aman dibandingkan gas (http://www.ristek.go.id/?module= News%20News&id=5131). Dengan demikian, proposal PKM-T yang berjudul ”Pengolahan Minyak Jelantah menjadi Bahan Bakar Kompor Alternatif melalui Proses Transesterifikasi pada Warung Makan Pondok Bunda di Daerah Sekeloa Bandung” dapat dijadikan alternatif solusi untuk sedikit mengatasi permasalahan energi, permasalahan lingkungan, dan kebiasaan buruk menggunakan minyak jelantah secara berulang yang ada di masyarakat khususnya warung makan Pondok Bunda.

C.     PERUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana proses pengolahan minyak jelantah menjadi bahan bakar kompor alternatif?
2.      Apa dampak kerjasama ini terhadap mitra kerja, masyarakat, dan lingkungan sekitar?

D.    TUJUAN
Untuk mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi mitra kerja, yaitu mahalnya biaya pembelian bahan bakar, tingkat keamanan pemakaian gas yang rendah, dan cara pemakaian gas yang lebih sulit dan harus lebih berhati-hati dibandingkan minyak tanah.
E.     LUARAN YANG DIHARAPKAN
1.      Dihasilkannya bahan bakar kompor alternatif yang murah, aman, dan mudah pakai.
2.      Mitra kerja mampu mengolah minyak jelantah yang dihasilkannya dan memakainya sebagai pasokan bahan bakar dalam kegiatan usahanya.

F.      KEGUNAAN 
1.      Bagi mitra kerja
a.       Mengurangi biaya pembelian bahan bakar.
b.      Memberikan keamanan pemakaian bahan bakar.
c.       Memberikan kemudahan pemakaian bahan bakar.
2.      Melindungi konsumen terhadap produk-produk makanan hasil olahan minyak jelantah.
3.      Mengurangi pencemaran air dan tanah dari minyak jelantah.

G.    TINJAUAN PUSTAKA 
Proses Transesterifikasi minyak jelantah adalah proses yang mereaksikan alkohol (metanol) dengan trigliserida dari minyak jelantah untuk memutuskan tiga rantai gugus ester dari setiap cabang trigliserida. Proses ini memerlukan panas dan katalis basa dengan hasil reaksi berupa metil ester (Erliza Hambali, 2008). Alkohol akan menggantikan gugus alkohol pada struktur ester minyak jelantah dengan bantuan katalis. Proses ini bertujuan menurunkan viskositas (kekentalan) minyak jelantah agar pembakarannya sempurna dan tidak menimbulkan endapan (Erliza Hambali, 2008).

H.    METODE PELAKSANAAN
Metode pelaksanaan yang akan kami lakukan secara umum terdiri dari tiga tahapan, yaitu sebagai berikut:
Tahap 1    Pengenalan
Tahap ini terbagi menjadi tiga kegiatan, yaitu pengumpulan minyak jelantah oleh mitra kerja, pembuatan bahan bakar kompor alternatif oleh pengusul proposal, dan penggunaan bahan bakar kompor alternatif oleh mitra kerja.
Tahap 2    Pelatihan
Secara garis besar, kegiatan-kegiatan pada tahap ini sama dengan kegiatan-kegiatan pada tahap satu, hanya saja pada saat pembutan bahan bakar kompor alternatif, pihak pengusul proposal hanya bertugas memandu, sedangkan pelaku kegiatan adalah mitra kerja.
Tahap 3    Pemantauan
Kegiatan-kegiatan pada tahap tiga juga tidak berbeda dengan kegiatan-kegiatan pada tahap satu dan dua, hanya saja pelaku kegiatan secara keseluruhan adalah mitra kerja, sedangkan pengusul proposal hanya bertugas memantau kegiatan.
Selanjutnya penulis akan menjelaskan proses pengolahan 5 L minyak jelantah menjadi bahan bakar kompor alternatif, yaitu sebagai berikut:
Tahap 1 Pemisahan
a.       Bahan:                                                       b.   Alat:   
Minyak Jelantah            : 5 liter                        Mixer               : 1 buah
Methanol                      : 1,25 liter                    Panci 10 liter   : 1 buah
NaOH                          : 30 gram                     Penyaring        : 1 buah
                                                           Teko 3 liter      : 2 buah
                                                                 Pemanas          : 1 buah
                                                                 Thermometer   : 1 buah
b.      Proses:
1)      Minyak jelantah disaring, dipanaskan 120oC, dan ditahan 5 menit.
2)      Methanol dimasukan ke dalam teko, ditambah NaOH sambil diaduk dengan mixer, campuran ini disebut larutan Lye.
3)      Panaskan minyak jelantah 55oC, masukkan larutan Lye sedikit demi sedikit kedalamnya sambil diaduk dengan mixer selama 1 jam.
4)      Tuangkan minyak ke dalam wadah dan biarkan selama 8 jam. Setelah itu akan terlihat dua lapisan, lapisan atas berwarna coklat kemerahan dan lapisan bawah berwarna hitam (gliserol), selanjutnya pisahkan.
Tahap 2 Pencucian
a.       Alat     : Wadah bening 10 liter 1 buah
      Bahan  : Air 1,25 liter
b.      Proses:
Masukan air 1,25 liter ke dalam lapisan coklat kemerahan dan aduk selama 1 menit dan diamkan selama 4 jam. Setelah itu akan terbentuk dua lapisan, lapisan atas berwarna kuning kecoklatan dan lapisan bawah berwarna putih susu. Pisahkan kedua lapisan dan panaskan lapisan kuning kecoklatan pada suhu 120oC selama 5 menit. Lapisan kuning kecoklatan itulah yang digunakan sebagai bahan bakar kompor alternatif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar